Di Balik Keutamaan Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Masjid Raya Sabilal Muhtadin kita kenal sebagai Masjid kebanggaan Masyarakat Kalimantan Selatan, karena Masjid ini juga dibangun di daerah kota Banjarmasin dan menjadi Masjid milik pemerintahan. Jadi segala sesuatu yang bersangkutan dengan Masjid Raya ini menjadi hak dan tanggung jawab pemerintah Banjarmasin. Masjid Raya Sabilal Muhtadin memberikan warna keagamaan yang sangat khas dan kental di kalangan masyarakat Banjarmasin khususnya di dalam penyiaran Agama Islam. Penyiaran Agama Islam di sini benar-benar sesuai dan mengikuti ajaran dan sunah-sunah yang pernah dilakukan dan dikerjakan Rasulullah sebagai perintah dari Allah SWT yang diwahyukan kepad RasulNya. Masjid Raya ini di dalam setiap minggunya itu tidak kosong dari pengajian-penajian agama atau Majelis Ta’lim. Majelis Ta’lim ini disampaikan oleh ulama-ulama besar yang ada di Kalimantan Selatan khususnya, para ulama yang memberikan ceramah di sini memang sangat dipercaya masyarakat untuk memberikan suatu pengajaran-pengajaran tentang syariat-syariat Islam yang dibawakan oleh Rasulullah. Ulama inipun sudah menguasai ilmu-ilmu pokok atau dasar dalam ajaran Islam seperti Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqh, dan Ilmu Tasawuf. Di samping itu mereka juga banyak hafal tentang Hadits-hadits shahih yang disampaikan oleh Rasulullah serta para Sahabat-sahabat beliau dan tentunya juga hafal ayat-ayat suci Al-Quran. Setelah menguasai ilmu-ilmu yang diberiakn oleh guru-guru mereka, sebelum memberikan suatu ceramah para ulama inipun biasanya harus bisa mengerjakan dan mengamalkan apa-apa ilmu yang telah mereka dapat dari gurunya tadi. Setelah ulama ini bisa mengamalkannya dan mnerapkannya di dalam kehidupannya sehari-hari, barulah guru-guru mereka ini memberikan kepercayaan kepadanya untuk meneruskan pengajaran di dalam penyampaian ilmu-ilmu agama Islam kepada masyarakat seraya memberikan Ijazah sebagai tanda wewenang untuk memberikan ceramah dan pengajian agama. Sekarang banyak ulama-ulama yang sesat, di mana mereka dalam menyampaikan ilmu agama itu tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah dan menyimpang dari Islam. Pada akhir zaman banyak ulama-ulama yang hanya pandai berpidato, mereka tidak benar-benar menguasai ilmu-ilmu agama Islam secara benar. Mereka hanya pandai menyampaikan tetapi tidak mengamalkannya dalam kehidupannya dan tidak berguru dengan guru yang benar-benar paham tentang ajaran Islam. Jadi untuk belajar ilmu agama inipun kita harus sangat hati-hati dalam memilih guru, salah-salah kita bisa keliru dalam memilih guru yang memang tidak begitu paham tentang ilmu itu Islam dan akhirnya kita bisa sesat dalam penerapan ilmu tadi “Na’udjubillahiminjalik”. Oleh sebab itulah menurut saya dengan adanya Masjid Raya Sabilal Muhtadin ini bisa memberikan penceraha dan penerangan tentang ajara-ajaran Islam yang dibawakan oleh Baginda Rasulullah SAW kepada kita, karena ulama-ulama yang menjadi pengelola serta pemberi pengajian tentang Islam di sini benar-benar memahami dan mengamalkannya sesuai dengan ajaran Rasulullah. Salah satu ulama besar yang ada di Kalimantan Selatan yang juga dikenal di mana-mana lewat ketauladanan serta kecakapan beliau di dalam menyampaikan ilmu agama menjadikannya digemari,disenangi dan memiliki karismatik yang tinggi di mata masyarakat. Beliau adalah Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin Gambut Kalimantan Selatan, sekaligus pengelola dan ketua harian Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin yakni K.H. Ahmad Bakeri atau sering disebut “Guru Bakeri”. Beliau murid dari ulama besar yang sudah sangat dikenal dan dibanggakan di mana-mana serta masih diingan jasa-jasa beliau di dalam memberikan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat yang beliau sekarang sudah meninggal dunia yaitu Almarhum K.H. Zaini bin Abdul Ghani Martapura atau sering kita kenal “Abah Guru Sekumpul”. Abah Guru Sekumpul seorang ulama yang Arifbillah yang sangat konsisten di dalam penerapan serta pengembangan ilmu yang di ajarkan Rasulullah. Abah Guru pernah berwasiat kepada Guru Bakeri sebagai murid yang dipercaya, Beliau selalu berpesan untuk tetap menjaga, mempertahankan dan menerapkan terus ajaran Ahlusunnah Waljama’ah. Ajaran ini diterapkan sesuai dengan pekerjaan nabi serta sunnah-sunnah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Oleh sebab itu sebagai penerus dari Guru Sekumpul, Guru Bakeri memang seorang murid yang pandai di dalam menguasai ilmu agama dan senantiasa mengamalkan ilmunya tersebut sehingga beliau sangat di sukai banyak orang karena ketaatannya dalam menyampaiakan ilmu-ilmu agama, beliau benar-benar mendidik masyarakat agar nantinya selamat dan berjalan di jalan lurus yang di ridhoi oleh Allah SWT. Di Masjid Raya Sabilal Muhtadin ini Guru Bakeri dalam jadwal menyampaikan ceramahnya ada 4 kali dalam seminggu, yaitu : senin malam, rabu malam, jumat malam dan minggu pagi. Di dalam memberkan ceramahnya Guru Bakeri selalu berpedoman kepada kitab,hadist serta dalil-dalil yang membenarkan. Jadi materi yang beliau berikan itu tidak melenceng kemana-mana sesuai di dalam isi kitab yang dikarang para alim-alim ulama terdahulu, ulama-ualam terdahulu sangat menjunjung tinggi ajaran dan perintah Rasulullah, mereka tidak terbaur dengan ajaran agama islam sekarang yang sudah berbeda-beda dan tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah. Ulama-ulama pernah berkata sekarang ini Islam itu terbagi menjadi 73 aliran yang masing-masing berbeda satu sama lainnya, tetapi para ulama itu menegaskan bahwa ajaran Islam yang benar sesuai dengan ajaran Rasul dan diridhoi oleh Allah SWT dari ke 73 ajaran itu adalah Ahlusunnah Waljama’ah atau sering juga disebut orang-orang Nahdatul Ulama (NU). Maka di dalam kesempatan Majelis Ta’lim Di Masjid Raya Sabilal Muhtadin ini Guru Bakeri selalu mempertahankan dan menerapkan ajaran Islam Ahlusunnah Waljama’ah sebagai pesan dari Abah Guru Sekumpul dan ulama-ulama dahulu yang memang mengikuti perintah serta sunnah Rasulullah. Kita telah menyadari adanya perbedaan itu, lebih khusus di kota Banjarmasin ini antara lain : Islam Muhammadiyah dan Islam Jama’ah Islamiah. Memang di dalam Islam ini tujuannya sama-sama mengharapkan ridhonya Allah SWT, tetapi para ulama mengatakan bahwa ajaran dan pekerjaan mereka tentang Islam sedikit menyimpang atau salah dalam penerapannya yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah, sehingga dapat membawa umatnya kejurang kesesatan (neraka). Mereka salah di dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, baik itu shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya yang tidak sesuai dan sedikit tidak sejalan dengan Rasulullah. Kita ambil contoh nyata saja yang terjadi setiap tahunnya di negeri ini yaitu dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal), biasanya Islam Muhammadiyah itu lebih dulu melaksanakannya daripada ketentuan dari pemerintah MUI Indonesia (NU). Padahal keputusan dan ketapan dari MUI itu diambil berdasarkan sesuai dengan musyawarah para alim-alim ulama yang memang mengetahui ilmu tentang penetapap hari atau penghisapan bulan yang tepat. Dari sini kita bisa menyadari bahwa telah terjadinya disintegrasi antar Islam, sungguh berbeda dengan zaman Rasulullah dulu yang beliau bisa merekrut umat seluruh jazirah Arab untuk berbai’at dan bersatu dalam satu kesatuan Islam yang kuat. Allah berfirman dalam Al-Quran yang artinya “Telah tejadi kerusakan dan perpecahan di akibatkan olah dan kerja dari umat manusia itu sendiri”. Seharusnya kita dapat menyadari semua itu dan waspada dengan ajaran Islam yang sesat dan itu nantinya bisa membawa kita kejalan yang salah dari ketentuan Allah SWT dan RasulNya. Oleh sebab itulah peran dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin ini sangat di butuhkan dan dipertahankan eksistensinya di masa sekarang ini untuk tempat penyampaian hukum-hukum Islam yang benar dan sesuai dengan ketentuanNya. Lewat para guru-guru alim ulama yang benar-benar mengetahui dan mengamalkan tentang ilmu-ilmu yang telah beliau dapatkan dari guru-guru mereka. Beliau mendapatkan kepercayaan dan diberikan ijazah oleh gurunya untuk menyampaikannya kembali kepada masyarakat ilmu-ilmu agama yang didapatnya dengan semata-mata mengharapkan Ridho dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Maka itulah Guru Bakeri selaku ketua harian dan pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin memberikan pengajian Agama sesuai dengan ketentuan Islam dari Rasulullah yakni Ahlusunnah Waljama’ah yang sesuai dengan Al-Quran, Al-Hadits dan Ijma para alim ulama. Beliau sangat mempertahankannya dari penetrasi aliran serta ajaran Islam yang salah dan tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Selain Guru Bakeri ada juga Guru-guru lain yang memberikan pengajian agama Islam yang sejalur dengan beliau di antaranya : K.H. Asmuni (Guru Danau), Guru Juhdi dan para Haba,ib-haba’ib penerus Rasulullah. Sebelum melakukan pengajian Agama biasanya di Masjid melakukan pembacaan Ayat suci Al-Quran, maulid Al-Habsyi, dan dalail seraya memohon Ridho dan mengambil berkat dari Nabi Muhammad SAW agar ilmu yang di dapat bisa di amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
-
Terkini
-
Taut
-
Arsip
- Desember 2007 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS